ICONIC 2016 Press Releases

ICONIC 2016: The two-day conference with leading experts in industries

Setelah sukses menyelenggarakan konferensi ICONIC yang pertama pada tahun 2014 di kota Nürnberg, pada kesempatan kali ini PPI Jerman bekerja sama dengan PPI Hamburg menyelenggarakan ICONIC 2016 di Hamburg. Tema yang diangkat dalam konferensi kali ini adalah “Kebangkitan Industri: Optimalisasi Sinergy Bisnis, Pemerintahan, dan Pendidikan”.

Dalam acara tersebut juga dihadiri Presiden Republik Indonesia ke-3, Prof. Dr. B. J. Habibie, sebagai salah satu keynote speaker. Eyang (panggilan beliau, sebagaimana beliau menganggap mahasiswa adalah cucu intelektualnya) menyampaikan dua pesan pokok yaitu budaya estafet dan memaknai cinta dalam arti yang luas. Salah satu alasan mengapa kita kalah bersaing dengan negara-negara tetangga adalah, karena kurang optimalnya budaya estafet. Generasi muda harus mempersiapkan diri dan memiliki daya saing tinggi sehingga siap menerima tongkat estafet. Sudah saatnya semua elemen bersinergi positif, sinergi yang membuat nilai tambah seluruh elemen yang terlibat. Berikutnya adalah pemaknaan cinta dalam arti luas yaitu cinta kepada Tuhan, tanah air, hingga bidang keilmuan yang ditekuni. Dengan adanya cinta, maka dapat menumbuhkan rasa toleransi dan melakukan semuanya dengan sepenuh hati.

Konferensi ini dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman, Dr. Ing. Fauzi Bowo, bersama dengan Konsul Jenderal RI di Hamburg, Sylvia Arifin, Presiden PPI Jerman, Imanuel Hakiki, dan Ketua Panitia Penyelengara, Akhmad Hafidz Irfandi. Dalam sambutannya, Duta Besar Republik Indonesia menyampaikan bahwa keunggulan Indonesia secara geografis dan demografis harus diimbangi dengan pembangunan sumber daya manusia sehingga menjadi negera yang berdaya saing tinggi.

Konferensi ini juga menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Ketua Dewan Riset Nasional, Dr. Bambang Setiadi, Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, Sekretaris Dirjen ILMATE – Kementerian Perindustrian, Ir. Hasbi Assidiq Syamsuddin, dan Atase Pendidikan di Jerman, Dr. Ahmad Saufi.

Acara konferensi ini berlangsung selama dua hari, 29-30 Oktober 2016 di Technische Universität Hamburg dan ditutup pada tanggal 30 malam dengan acara gala dinner dan awards night di KJRI Hamburg. Sebagai kegiatan pelengkap, sehari sebelum konferensi peserta juga mendapat kesempatan untuk berkeliling Hamburg dalam program Hamburg city tour dan sehari setelah konferensi peserta dapat mengikuti ekskursi ke pabrik konsorsium pesawat terbesar di Eropa, Airbus di Hamburg.

Konferensi ICONIC mempertemukan individu dari berbagai latar belakang keilmuan dan profesi untuk saling bertukar pemikiran dan mencari solusi terhadap tantangan yang di hadapi Indonesia saat ini. Acara ini terdiri dari dua sesi, untuk sesi pertama yaitu keynote speech kemudian dilanjutkan sesi presentasi paper di beberapa kelas, sesuai dengan bidangnya secara parallel. Sebanyak 253 abstrak yang diterima oleh tim akademik kemudian dilakukan proses seleksi. Pada akhirnya 60 paper karya para mahasiswa Indonesia dalam berbagai bidang dipresentasikan selama konferensi  untuk dibahas bersama yang diharapkan memberikan kontribusi dalam pengembangan keilmuan dan pembangunan Indonesia.

Mahasiswa Indonesia merasa perlu adanya suatu wadah dimana para akademisi, pakar, diaspora dan mahasiswa duduk bersama untuk berdiskusi dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini serta meningkatkan rasa kepedulian dan kecintaan terhadap tanah air Indonesia. ICONIC merupakan salah satu bentuk kontribusi para diaspora dan mahasiswa terhadap tanah air Indonesia.

Penulis: A. H. Irfandi, Chairman of ICONIC 2016 | Website: http://iconic.ppi-jerman.de

Figure: @ppihamburg

A GOOD SYNERGY FROM GERMANY FOR INDONESIA

Adhering to the principle that the contribution of the future generation is unlimited by the time and space, the Youth Association of Indonesia (PPI) Germany gathers academics, experts, diaspora, and students to sit together and find solutions to the Indonesia challenges. On 29-30 October 2016 at the Technische Universität Hamburg, citizens of Indonesia in Germany were in a discussion with Dr. Bambang Setiadi (Chairman of the National Research Council), Faisal Basri (Economist, University of Indonesia), Ir. Hasbi Assidiq Shamsuddin (ILMATE Director General Secretary - Ministry of Industry), Dr. Ahmad Saufi (Education Attaché in Germany), and Prof. Dr. B. J. Habibie (the President of the Republic of Indonesia 3rd).

One topic of discussion was that it is interesting that the Malioboro street in Yogyakarta is now so crowded so that the daily energy consumption in this area is very large. Muhammad Faiz Aghni and Rizka Ratnasari Islami from Gadjah Mada University presented a solution to make a speed bump and the pavement floor as a ground electric generator in order to decrease the number of energy consumption in Malioboro. In addition, the term "Backpackers' Experience Spectrum" (calculation on how many times tourists moves from one place to another and how long tourists settle in one place) was initiated by Fara Ramadhina from Indonesian Communications as a new parameter to increase Indonesia tourism and support the movement of Visit Indonesia. Not to mention, Evy Setiawati, Mia Fitriana, and Heri Soedarmanto from Brawijaya University raised the topic of raw materials processing from the iron-wood extract to be a mouthwash.

The experts also added that Indonesia industries are still focusing on the sales of raw materials. Thus, the needs to increase the economic growth, the number of knowledgeable residents, as well as the domestic and global market share are very crucial. In addition, they also disclosed that Indonesia is now considered as a country with a low performance level of manufacturing industry, whose role becomes crucial for nowadays’ issues. Indonesia should empower an increase in industrial structure, investment in highly valuable products, and national capacity.

Thanks to International Conference of Integrated Intellectual Community (iconic) which made this event under the theme of "Industrial Revival: Optimizing Strategy on Business, Government, and Education". It is also one form of contributions from the diaspora and students of the Homeland-Indonesia. Finally, this is the time for all of the elements to create a positive synergy because synergy creates added values for a better Indonesia.

Author: Karlina Denistia and Hashlin Pascananda Utami | Strategy Marketing and Media Division Iconic 2016 | Website: http://iconic.ppi-jerman.de

Figure: @ppihamburg

TRAVELLING, JALAN MALIOBORO, DAN  KAYU BESI DIKUPAS TUNTAS DI JERMAN

Berpegang pada prinsip bahwa kontribusi generasi penerus bangsa tak terbatas oleh dimensi ruang dan waktu, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman mempertemukan para akademisi, pakar, diaspora, dan mahasiswa untuk duduk bersama dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Pada tanggal 29-30 Oktober 2016 di Technische Universität Hamburg, warga Indonesia di Jerman larut dalam diskusi hangat bersama dengan Dr. Bambang Setiadi (Ketua Dewan Riset Nasional), Faisal Basri (Ekonom Universitas Indonesia), Ir. Hasbi Assidiq Syamsuddin (Sekretaris Dirjen ILMATE – Kementerian Perindustrian), Dr. Ahmad Saufi (Atase Pendidikan di Jerman), dan Prof. Dr. B. J. Habibie (Presiden Republik Indonesia ke-3).

Salah satu paper yang menarik adalah mengenai jalan Malioboro di Yogyakarta yang saat ini begitu ramai dan selalu padat pengunjung sehingga dapat dikatakan, konsumsi energi harian di kawasan ini sangat besar. Muhammad Faiz Aghni dan Rizka Islami Ratnasari dari Universitas Gadjah Mada memberikan solusi dengan menjadikan polisi tidur dan lantai di emper (pinggir) toko yang ketika diinjak atau dilintasi kendaraan dapat menghasilkan energi alternatif. Selain itu, istilah “Backpackers’ Experience Spectrum” (perhitungan berapa kali turis berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan berapa ama turis menetap di satu tempat yang dijadikan landasan ide) digagas oleh Fara Ramadhina dari Indonesian Communications sebagai sebuah parameter baru untuk meningkatkan pariwisata Indonesia dan mendukung gerakan Visit Indonesia. Tidak kalah inovatifnya, Evy Setiawati, Mia Fitriana, dan Heri Soedarmanto dari Universitas Brawijaya mengangkat topik mengenai pengolahan bahan mentah dan berhasil memanfaatkan ekstrak kayu besi sebagai obat kumur. 

Para pakar juga menambahkan bahwa sebagian besar fokus industri Indonesia masih berada pada penjualan bahan mentah tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Maka, diperlukan adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk berpengetahuan, serta pangsa pasar domestik dan global. Di samping itu, diungkapkan juga bahwa Indonesia saat ini merupakan negara yang rendah performa industri manufakturnya sehingga peranan industri manufaktur menjadi hal yang krusial untuk lebih diberdayakan, seperti peningkatan stuktur industri, investasi pada produk-produk yang bernilai tinggi, dan kapasitas nasional.

Diskusi hangat tersebut tercipta berkat adanya sebuah event International Conference of Integrated Intellectual Community (ICONIC) yang mengusung tema “INDUSTRIAL REVIVAL : OPTIMIZING STRATEGY ON BUSINESS, GOVERNMENT AND EDUCATION”, sekaligus merupakan salah satu bentuk kontribusi para diaspora dan mahasiswa terhadap tanah air Indonesia. Sudah saatnya semua elemen bersinergi positif, sinergi yang membuat nilai tambah bagi seluruh elemen yang terlibat.

Penulis: Karlina Denistia dan Hashlin Pascananda Utami | Divisi Strategi Marketing dan Media ICONIC 2016 | Website: http://iconic.ppi-jerman.de